Malnutrisi dan Masalah Kesehatan Melanda Siswa Perkotaan di India Secara Luas

Malnutrisi dan Masalah Kesehatan Melanda Siswa Perkotaan di India Secara Luas

Analisis terbaru yang dilakukan di sebuah sekolah swasta besar di Pune, India, mengungkapkan situasi yang mengkhawatirkan di kalangan siswa perkotaan. Lebih dari 70% dari 4.848 anak yang diteliti, berusia 3 hingga 17 tahun, menderita malnutrisi, sementara hampir setengahnya mengalami masalah gigi. Gangguan penglihatan dialami oleh lebih dari seperempat siswa, dengan prevalensi yang secara signifikan lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Masalah THT dan pediatrik, meskipun kurang sering, tetap mengkhawatirkan, masing-masing menimpa hampir 19% dan 28% anak.

Malnutrisi terutama terwujud dalam bentuk berat badan yang kurang, terutama menonjol pada anak-anak yang lebih muda, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Fenomena ini secara bertahap menurun seiring bertambahnya usia, tetapi tetap mendominasi bahkan di kalangan remaja. Sebaliknya, masalah penglihatan meningkat seiring dengan tingkatan sekolah: dari 11% pada anak-anak termuda hingga lebih dari 35% pada siswa SMA. Gigi berlubang, di sisi lain, hampir berlipat ganda antara kedua kelompok usia ini, menyoroti dampak akumulatif dari kebiasaan makan yang buruk dan kebersihan mulut yang tidak memadai.

Anak perempuan terutama terpengaruh oleh gangguan penglihatan, dengan risiko 20% lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki, terlepas dari usia atau status gizi mereka. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh faktor perilaku atau sosiobudaya, seperti paparan layar yang lebih tinggi atau keterlambatan dalam mencari perawatan. Anak-anak yang mengalami kekurangan berat badan juga lebih rentan terhadap gigi berlubang dan masalah pediatrik, seperti anemia, yang menyoroti hubungan antara malnutrisi kronis dan kesehatan secara keseluruhan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan berubah seiring bertambahnya usia. Pada anak-anak yang lebih muda, kekurangan gizi mendominasi, sementara remaja lebih banyak menderita masalah sensorik dan gigi. Transisi ini mencerminkan perubahan gaya hidup, seperti pola makan yang kurang seimbang dan penurunan aktivitas fisik, yang khas di lingkungan perkotaan.

Studi ini menekankan perlunya tindakan segera di sekolah, terutama dengan memperkuat program pemeriksaan dan pencegahan. Intervensi harus disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan tingkat sekolah anak. Misalnya, anak perempuan sebaiknya mendapatkan pemeriksaan penglihatan yang lebih sering, sementara anak-anak yang lebih muda memerlukan program gizi yang ditargetkan. Penggunaan rekam medis elektronik memungkinkan pelacakan masalah ini secara tepat dan penyesuaian tindakan yang sesuai.

Koeksistensi malnutrisi dan kelebihan berat badan pada beberapa anak mengilustrasikan fenomena yang disebut beban ganda gizi. Fenomena ini ditandai dengan adanya kekurangan dan kelebihan berat badan secara bersamaan dalam populasi yang sama, sering disebabkan oleh pola makan yang tidak seimbang dan gaya hidup yang kurang aktif. Temuan ini mengonfirmasi bahwa tantangan kesehatan siswa perkotaan di India bersifat kompleks dan memerlukan solusi yang beragam.


Bibliographie

Source du rapport

DOI : https://doi.org/10.1007/s12187-026-10391-6

Titre : Malnutrition and Health Burden Among Urban Indian Schoolchildren: Evidence from Digital Health Records

Revue : Child Indicators Research

Éditeur : Springer Science and Business Media LLC

Auteurs : Alaka Chandak; Rajiv Yeravdekar

Speed Reader

Ready
500